A. ANALISIS VEGETASIS
Vegetasi
merupakan kumpulan tumbuh-tumbuhan, biasanya terdiri dari beberapa jenis yang
hidup bersama-sama pada suatu tempat. Dalam mekanisme kehidupan bersama
tersebut terdapat interaksi yang erat, baik diantara sesama individu penyusun
vegetasi itu sendiri maupun dengan organisme lainnya sehingga merupakan suatu
sistem yang hidup dan tumbuh serta dinamis
Vegetasi,
tanah dan iklim berhubungan erat dan pada tiap-tiap tempat mempunyai
keseimbangan yang spesifik. Vegetasi di suatu tempat akan berbeda dengan
vegetasi di tempat 1ain karena berbeda pula faktor lingkungannya. Vegetasi
hutan merupakan sesuatu sistem yang dinamis, selalu berkembang sesuai dengan
keadaan habitatnya.
Analisis
vegetasi adalah suatu cara mempelajari susunan dan atau komposisi vegetasi
secara bentuk (struktur) vegetasi dari masyarakat tumbuh-tumbuhan. Unsur
struktur vegetasi adalah bentuk pertumbuhan, stratifikasi dan penutupan tajuk.
Untuk keperluan analisis vegetasi diperlukan data-data jenis, diameter dan
tinggi untuk menentukan indeks nilai penting dari penvusun hutan tersebut.
Dengan analisis vegetasi dapat diperoleh informasi kuantitatif tentang struktur
dan komposisi suatu komunitas tumbuhan.
B. METODE ANALISIS
VEGETASI
jumlah spesies.
Kemudian ditarik garis resultansinya dari (dari 10% tadi). Setelah itu ditarik
garis singgung pada kurve yang sejajar resultante tersebut. Kemudian dari titik
singgungnya ditarik garis ke absis yang sejajar ordinat. Maka luas minimum petak
(plot) dapat diketahui.
B.1. Metode Destruktif
(Pengukuran yang bersifat merusak)
Metode ini
biasanya dilakukan untuk memahami jumlah materi organik yang dapat dihasilkan
oleh suatu komunitas tumbuhan. Variable yang dipakai bisa diproduktivitas
primer, maupun biomasa. Dengan demikian dalam pendekatan selalu harus dilakukan
penuain atau berarti melakukan perusakan terhadap vegetasi tersebut.
Metode ini
umumnya dilakukan untuk bentuk vegetasi yang sederhana, dengan ukuran luas
pencuplikan antara satu meter persegi sampai lima meter persegi. Penimbangan
bisa didasarkan pada berat segar materi hidup atau berat keringnya. Metode ini
sangat membantu dalam menentukan kualitas suatu padang rumput dengan usaha
pencairan lahan penggembalaan dan sekaligus menentukan kapasitas tampungnya.
Pendekatan yang terbaik untuk metode ini adalah secara floristika, yaitu
didasarkan pada pengetahuan taksonomi tumbuhan.
B.2. Metode non
Destruktif (Pengukuran yang bersifat tidak merusak)
Metode ini
dapat dilakukan dengan dua cara pendekatan, yaitu berdasarkan
penelaahan organisme hidup/tumbuhan (tidak didasarkan pada taksonominya),
dan pendekatan lainnya adalah didasarkan pada penelaahan organisme tumbuhan
secara taksonomi atau pendekatan floristika.
B.2.1. Metode non-destruktif,
non-floristika
Metode
non-floristika telah dikembangkan oleh banyak pakar vegetasi. Seperti Du Rietz
(1931), Raunkiaer (1934), dan Dansereau (1951), yang kemudian diekspresikan
oleh Eiten (1968) dan Unesco (1973) dan serau membagi dunia tumbuhan berdasarkan
berbagai hal, yaitu bentuk hidup, ukuran, fungsi daun, bentuk dan ukuran daun,
tekstur daun, dan penutupan. Untuk setiap karakteristiknya di bagi-bagi lagi
dalam sifat yang kebih rinci, yang pengungkapannya dinyatakan dalam bentuk
simbol huruf dan gambar.
Bentuk
Hidup Metode ini, klasifikasi bentuk vegetasi, biasanya dipergunakan dalam
pembuatan peta vegetasi dengan skala kecil sampai sedang, dengan tujuan untuk
menggambarkan penyebaran vegetasi berdasarkan penutupannya, dan juga masukan
bagi disiplin ilmu yang lainnya.
Untuk
memahami metode non-floristika ini sebaiknya kita kaji dasar-dasar pemikiran
dari beberapa pakar tadi. Pada prinsipnya mereka berusaha mengungkapkan
vegetasi berdasarkan bentuk hidupnya, jadi pembagian dunia tumbuhan secara
taksonomi sama sekali diabaikan, mereka membuat klasifikasi tersendiri dengan
dasar-dasar tertentu.
B.2.2. Metode non destruktif
floristika
Metode ini
dapat menentukan kekayaan floristika atau keanekaragaman dari berbagai bentuk
vegetasi. Penelaahan dilakukan terhadap semua populasi spesies pembantuk
masyarakat tumbuhan tersebut, jadi dalam hal ini pemahaman dari setiap jenis
tumbuhan secara taksonomi adalah mutlak diperlukan. Dalam pelaksanaanya
ditunjang dengan variabel-variabel yang diperlukan untuk menggambarkan baik
struktur maupun komposisi vegetasi.
C. LANGKAH KERJA ANALISIS VEGETASI
Secara
umum langkah kerja Analisis Vegetasi untuk menguraikan komunitas tumbuhan
dibagi atas 2 tahap, yaitu:
C.1. Analisis
Karakter (Analytical Characters)
Analisis
karakter terdiri atas:
a. Analisis kuantitatif,
memberikan data komunitas yang berkenaan dengan jumlah dan ukuran komunitas.
Pada analisis kuantitatif ada 3 parameter penting yang diukir dari satu
komunitas:
1. Kekerapan
(frekuensi), berkenaan dengan keseragaman/keteraturan sebaran dari suatu
tumpukan dalam suatu komunitas. Kekerapan digambarkan dengan persentase
kehadiran jenis tersebut dalam petak-petak contoh (plot).
Frekuensi = Jumlah petak
contoh yang ditempati suatu jenis
Jumlah semua petak yang dibuat
FR = Jumlah petak contoh yang
ditempati suatu jenis X100%
Total frekuensi seluruh jenis
2. Kerapatan
(densitas), merupakan jumlah individu suatu jenis yang terdapat dalam suatu
area contoh.
Densitas = Jumlah individu
suatu jenis
Luas area sampel
Densitas Relatif = Jumlah
individu suatu jenis X 100%
Total
densitas seluruh jenis
3. Dominansi, merupakan
luas tutupan atau penguasaan suatu jenis tumbuhan terhadap bidang dasar pada
suatu komunitas. Dominansi dapat diukur dengan:
a.
Cover (kelindungan atau tutupan tajuk)
Dominansi = luas cover suatu
jenis
Luas area sampel
b.
Basal area, luas area dekat permukaan tanah yang dikuasai suatu jenis tumbuhan.
Dominansi = luas basal area suatu
jenis X 100%
Total dominansi seluruh jenis
C.2.
Sintesis Karakter
Sintesis
karakter dipakai untuk membedakan antara bebagai komunitas. Namun diantara
parameter itu bila dikombinasikan menampilkan corak yang lebih berguna untuk
perumpunan.
D.METODE
KUADRAT
Dalam ilmu vegetasi telah dikembangkan berbagai
metode untuk menganalisis suatu vegetasi yang sangat membantu dalam
mendekripsikan suatu vegetasi sesuai dengan tujuannya. Dalam hal ini suatu
metodologi sangat berkembang dengan pesat seiring dengan kemajuan dalam
bidang-bidang pengetahuan lainnya, tetapi tetap harus diperhitungkan berbagai
kendala yang ada Metodologi-metodologi yang umum dan sangat efektif serta
efisien jika digunakan untuk penelitian, yaitu metode kuadrat, metode garis,
metode tanpa plot dan metode kwarter. Akan tetapi dalam praktikum kali ini
hanya menitik beratkan pada penggunaan analisis dengan metode garis dan metode
intersepsi titik (metode tanpa plot) (Syafei, 1990).
Metode
kuadrat, bentuk percontoh atau sampel dapat berupa segi empat atau lingkaran
yang menggambarkan luas area tertentu. Luasnya bisa bervariasi sesuai dengan bentuk
vegetasi atau ditentukan dahulu luas minimumnya. Untuk analisis yang
menggunakan metode ini dilakukan perhitungan terhadap variabel-variabel
kerapatan, kerimbunan, dan frekuensi (Surasana, 1990).
Bentuk petak
contoh sangat penting dalam memudahkan penempatan petak contoh dan efisiensi
sampling. Ada tiga bentuk petak contoh yaitu : lingkaran, bujur sangkar dan
empat persegi panjang.
Menurut
(Loetsch, Zohrer, and Haller (1973) kelebihan petak contoh lingkaran umumnya
lebih mudah dibuat dibandingkan bentuk lain, karena dalam pembuatannya yang
diperlukan hanya titik pusat petak dan jarij ari lingkaran, selain itu relatif
lebih mudah dalam mengatur pohon batas (borderline tree).
Bentuk
lingkaran mempunyai ketelitian yang cukup tinggi dalam proses pembuatannya.
Disamping itu juga, petak bentuk lingkaran akan praktis kalau digunakan untuk
komunitas yang relatif seragam, seperti pada hutan tanaman, komunitas
rumput/herba dan semak belukar.
Bentuk petak
ukur empat persegi panjang atau bujur sangkar mengundang peluang untuk
terjadinya bias, karena pembuatan sudut yang benar-benar tegak lurus di
lapangan tidak mudah.
Demikian pula
terjadinya error karena pohon tepi pada kedua macam bentuk petak ukur
itu ternyata cukup besar (Kadri, Soerjono, dan Perbatasari, 1992). Walaupun
begitu, menurut Siswantoro et.al (2003) petak contoh berbentuk persegi panjang
akan lebih efisien dari pada petak berbentuk bujur sangkar dalam jumlah dan
luasan yang sama, bila sumbu panjang petak sejajar perubahan gradient
lingkaran.
Kelimpahan
setiap spesies individu atau jenis struktur biasanya dinyatakan sebagai suatu
persen jumlah total spesises yang ada dalam komunitas, dan dengan demikian
merupakan pengukuran yang relatife. Secara bersama-sama, kelimpahan dan
frekuensi adalah sangat penting dalam menentukan struktur komunitas (Michael,
1994).
Menurut Weaver dan Clements (1938) kuadrat
adalah daerah persegi dengan berbagai ukuran. Ukuran tersebut bervariasi dari 1
dm2 sampai 100 m2. Bentuk petak sampel dapat persegi, persegi panjang atau
lingkaran.
D.1.Metode
kuadrat juga ada beberapa jenis:
a.
Liat quadrat
Spesies di luar
petak sampel dicatat.
b.
Count/list count quadrat
Tidak ada komentar:
Posting Komentar